MENJAGA DIRI DI TENGAH ARUS TAAT DAN TEKANAN SOSIAL - MEYZA PUTRI SALSABILA
Judul:
Menjaga Diri di Tengah Arus Taat dan Tekanan Sosial
Oleh:
Meyza Putri Salsabila / XI-6
Pendahuluan
Di tengah derasnya arus modernisasi, batas antara yang benar dan salah dalam pergaulan remaja sedikit demi sedikit menghilang. Interaksi antara laki-laki dan perempuan non-mahram kini sering kali dianggap wajar, bahkan dibanggakan. Budaya pacaran, chatting mesra tanpa keperluan syar’i, hingga bertemu tanpa pengawasan orang tua, menjadi hal yang lumrah. Padahal, dalam pandangan agama, kedekatan semacam ini sangat rentan terhadap kemaksiatan.
Akan tetapi, ketika seseorang berusaha menjaga diri dan menarik diri dari pergaulan bebas demi ketaatan kepada Allah, ia justru sering kali mendapat tekanan sosial. Dicap “sok alim”, “ketinggalan zaman”, atau bahkan dijauhi. Menjadi taat di zaman sekarang bukan hanya soal iman, tapi juga soal keberanian untuk tampil berbeda dari yang lainnya.
Isi
Islam telah memberikan batasan yang jelas dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’: 32)
Ayat ini tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala bentuk pendekatan yang bisa mengarah ke sana. Sehingga, menjaga pandangan, menjaga jarak, dan tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis secara bebas adalah bentuk ketaatan yang tinggi. Namun, semua ini menjadi sangat sulit dilakukan ketika lingkungan sekitar justru menormalisasi perbuatan tersebut.
Dalam psikologi sosial, terdapat konsep peer pressure yang merupakan tekanan dari kelompok sebaya yang membuat seseorang mengikuti hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan prinsip atau keyakinannya. Tekanan ini bisa sangat kuat, terutama di usia remaja ketika seseorang sedang mencari jati diri dan pengakuan sosial.
Mereka yang berusaha menjaga diri kerap merasa asing, terasingkan, bahkan ditinggalkan. Tapi Rasulullah SAW justru memberi kabar gembira kepada orang-orang yang tetap teguh dalam keasingan itu:
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing.”
(HR. Muslim)
Menjadi berbeda karena memilih ketaatan adalah bentuk keberanian. Menjaga diri dari interaksi yang tidak syar’i bukanlah kemunduran, melainkan kemuliaan.
Penutup
Menjadi remaja yang taat di zaman yang penuh tekanan sosial dengan perjuangan yang tidak ringan. Tapi justru di sanalah nilai dari sebuah ketaatan, sebab ia dijalani bukan untuk mendapatkan pujian manusia, melainkan untuk meraih ridha Allah. Kita perlu mulai menormalisasi kembali nilai-nilai kebaikan dan tidak membiarkan budaya yang menyimpang menjadi acuan.
Menjaga diri bukan berarti kuno, tapi bukti cinta kepada Allah. Saat orang lain bangga mendekati maksiat, jadilah pribadi yang bangga menjaga kehormatan. Di tengah arus dunia yang keras, semoga kita tetap mampu berdiri tegak, menjaga diri, dan istiqamah dalam kebaikan.
Daftar Rujukan:
Al-Qur’an Surat Al-Isra’ Ayat 32
HR. Muslim, Islam datang dalam keadaan asing
Asch, S. E. (1951). Effects of Group Pressure upon the Modification and Distortion of Judgments
Kompas.com. (2023). BKKBN: 91 Persen Remaja Indonesia Pernah Pacaran.
https://www.kompas.com/edu/read/2023/07/11/102200671/bkkbn-91-persen-remaja-indonesia-pernah-pacaran
Komentar
Posting Komentar