TAMAN YANG DITINGGAL WAKTU - NADHIF ALFARISI
Taman yang Ditinggal Waktu
By nadhif alfarisi
Di kaki gunung, di desa sunyi,
hidup seorang Nadhif dalam sepi.
Tangannya sibuk merajut benang,
hatinya diam, luka tak hilang.
Dia, cinta pertama dan akhir,
telah pergi dalam sunyi yang getir.
Mereka tanam bunga, rajut mimpi,
kini tinggal kenangan yang tak henti.
Taman mekar tiap pagi datang,
seolah Diva masih di samping.
Harumnya menusuk relung jiwa,
mengingatkan pada janji lama.
"Waktu bisa mengubah segalanya,"
kata pria tua di senja yang hampa.
"Tidak untuk menghapus yang telah pergi,
tapi untuk memberi ruang agar kau berdiri."
Nadhif termenung di bangku kayu,
menatap bunga, menahan rindu.
Ia tahu, kehilangan tak bisa dihindari,
tapi hidup… harus tetap dijalani.
Kini ia tersenyum, walau masih sepi,
bukan karena lupa, tapi karena berani.
Berani hidup meski hati terluka,
berani mencinta tanpa harus lupa.
Taman itu masih tumbuh dan mekar,
seperti cinta yang tak pernah pudar.
Diva hidup di setiap kelopak yang jatuh,
dan waktu… pelan-pelan menyembuhkan yang rapuh.
Komentar
Posting Komentar