CERMIN DI SUDUT KAMAR - ZAHIRA TALITA

 ZAHIRA TALITA SAKHI XI6 


Judul: Cermin di Sudut Kamar


Di sudut kamar kecilnya, alza duduk diam sambil menatap cermin di depannya. Ia menatap wajahnya, berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya merasa puas. Namun, seperti biasa, ia hanya melihat kekurangan: pipi yang terlalu bulat, kulit yang tidak mulus, dan tubuh yang jauh dari gambaran sempurna yang sering ia lihat di media sosial.


Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi suara-suara di kepalanya terus berbisik.

"Kenapa kamu nggak secantik mereka?"

"Lihat dirimu, nggak ada yang istimewa."


Setiap kali ia membuka ponselnya, ia merasa dunia menghakiminya. Teman-temannya memposting foto-foto mereka yang terlihat begitu sempurna—senyuman cerah, tubuh ideal, kehidupan yang tampak bahagia. Sementara itu, ia hanya bisa duduk di kamar, merasa kecil dan tidak cukup baik.


Hari itu, alza berencana menghadiri reuni kecil teman sekolahnya. Awalnya ia ingin menolak, tapi desakan dari sahabatnya, Lila, membuatnya akhirnya setuju. Meski begitu, persiapannya penuh dengan keraguan. Ia mencoba beberapa baju, namun tak satu pun yang membuatnya merasa percaya diri.


"Kenapa aku harus datang? Aku pasti hanya akan dibanding-bandingkan," gumamnya pelan.


Namun, saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, menarik napas dalam-dalam, dan melangkahkan kakinya keluar rumah.


Di tempat reuni, alza merasa seperti ikan kecil di kolam besar. Teman-temannya tampak begitu percaya diri, bercanda dan berbicara tanpa beban. Ia duduk di sudut ruangan, mencoba tersenyum meskipun hatinya penuh dengan rasa tidak nyaman.


"Alza! Lama banget nggak ketemu!" suara Lila memecah lamunannya.


Alza duduk di sampingnya, membawa dua gelas minuman. "Kamu kelihatan cantik malam ini," kata Lila tulus.


Alza hanya tersenyum kecil. Ia tidak percaya dengan kata-kata itu. Tapi Lila, yang selalu peka, menangkap keraguan di wajahnya.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan nggak nyaman?" tanya Lila.


Alza terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Aku cuma... ngerasa nggak cocok di sini. Mereka semua kelihatan sempurna, sedangkan aku..."


Lila mengerutkan kening. "Alza, kamu serius? Kamu nggak perlu jadi orang lain untuk cocok di mana pun. Mereka mungkin kelihatan sempurna, tapi setiap orang punya hal yang mereka sembunyikan."


Alza menggeleng pelan. "Tapi aku merasa nggak pernah cukup, Lila. Aku selalu merasa ada yang salah dengan diriku."


Lila menggenggam tangan alza. "Dengar, all. Kamu itu lebih dari cukup. Kamu punya hati yang baik, kamu selalu mendengarkan orang lain, dan itu nggak semua orang punya. Kenapa kamu nggak coba lihat hal-hal baik tentang dirimu sendiri?"


Kata-kata Lila mengendap dalam hati alza. Malam itu, ia pulang dengan pikiran yang berbeda. Di kamar, ia berdiri lagi di depan cermin. Untuk pertama kalinya, ia mencoba melihat sesuatu yang lain—bukan kekurangan, tapi apa yang ia punya.


Ia tersenyum kecil, meskipun rasa insecure itu belum sepenuhnya hilang. Tapi ia tahu, langkah kecil ini adalah awal untuk berdamai dengan dirinya sendiri.   



Tema : seorang gadis yang selalu insecure dengan apa yang ia punya


Tokoh: Alza watak karakter pesimis


Alur cerita : maju


Latar:kamar,tempat reoni


Sudut pandang: orang ke tiga


Gaya  bahasa:perbandingan  


Amanat: Jangan membandingkan diri dgn org lain.dan selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita,setiaporang punya kelebihan dan kekurangan masing2

Komentar

Postingan Populer