DI ANTARA JEDA - IRMA MAULIDIYAH
Di Antara Jeda
by: Irma Maulidiyah
Aku duduk di sudut perpustakaan, menatap barisan huruf di buku yang terbuka di depanku. Tapi pikiranku tidak sedang membaca. Fokusku terarah ke sosok yang duduk di meja seberang, tenggelam dalam catatan dan laptopnya.
Dia.
Namanya selalu terasa melodius setiap kali kuucapkan dalam hati. Dia bukan siapa-siapa bagiku—atau aku baginya. Kami tidak pernah berbicara, bahkan untuk sekadar bertukar salam. Aku tidak tahu apa makanan favoritnya, lagu yang sering ia dengar, atau apa yang membuatnya tertawa. Tapi entah bagaimana, aku mencintainya. Dalam diam.
Aku hanya bisa mengaguminya dari jauh, memperhatikan setiap gerak-geriknya, setiap helai rambut yang tertiup angin, setiap ekspresi serius di wajahnya saat membaca. Aku tak tahu apakah dia menyadari keberadaanku, atau sekadar tahu aku ada di ruangan yang sama.
Namun, aku tetap di sini. Diam.
Suatu hari, aku sedang berjalan menuju kelas. Langkahku terhenti ketika melihatnya berdiri di koridor, berbicara dengan beberapa temannya. Aku mencoba menghindar, tapi mataku terlanjur mencuri pandang. Saat itulah, untuk pertama kalinya, mata kami bertemu.
Tatapan itu hanya berlangsung sesaat, tapi cukup untuk membuatku terpaku. Jantungku berdetak lebih cepat, seolah ingin memberitahunya sesuatu yang tak mampu diucapkan mulutku. Dia tidak tersenyum, tidak memberi tanda apa pun, hanya kembali berbicara dengan temannya. Tapi aku merasa… dia melihatku.
Sejak saat itu, aku merasa tatapannya sering mengikutiku. Ketika aku sedang berjalan menuju taman, ketika aku duduk di sudut kantin, bahkan saat aku berdiri di halte. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa, tidak pernah menghampiri. Hanya melihat. Dan aku, seperti biasa, hanya diam.
Ada kalanya aku bertanya-tanya, apa yang dia pikirkan? Apakah dia tahu tentang perasaanku? Atau mungkin tatapan itu hanya kebetulan? Aku tidak tahu. Tapi setiap kali mata kami bertemu, aku merasa ada sesuatu yang tak terucapkan. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan.
Aku ingat suatu sore di perpustakaan, ketika aku hendak pulang. Aku melewati mejanya, dan seperti biasa, dia sedang sibuk dengan catatan. Tapi saat aku melangkah, aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku. Aku menoleh, dan benar saja, dia sedang melihatku. Tidak ada senyuman, tidak ada gerakan, hanya mata yang seolah berbicara dalam diam.
Waktu terus berjalan. Aku tetap mencintainya dalam diam, dan dia tetap menjadi sosok yang hanya bisa aku kagumi dari jauh. Kami tetap seperti itu: dua orang yang saling tahu keberadaan, tapi tak pernah berbicara.
Aku tidak tahu apakah aku ingin mengubahnya. Bagiku, cukup melihatnya dari jauh sudah memberi kebahagiaan kecil. Dalam diam ini, aku menemukan kenyamanan, meskipun penuh dengan kerinduan yang tak terungkapkan.
Mungkin, cinta tidak selalu harus diucapkan. Kadang, cukup dengan saling tahu bahwa kita ada. Dan meskipun jarak ini tak pernah terjembatani, aku tetap di sini, mencintainya di antara jeda—tanpa suara, tanpa kata, hanya hati yang berbicara.

Komentar
Posting Komentar