LANGKAH KECIL SEORANG AYAH - SANTIKA SOFIATUL BARKAH
Langkah kecil seorang ayah
by: Santika Sofiatul Barkah
Seorang ayah memeluk tubuh kecil anaknya. Ia menatap tubuh kecil itu dengan tatapan iba, bagaimana anak sekecil ini bisa hidup tanpa peran sosok ibu?. Anak berumur 8 tahun ini ditinggal ibunya meninggal setelah melahirkanya ke dunia. Ucil dan ayahnya hidup dilingkungan yang minim fasilitas dan ekonomi. “AYAH AKU INGIN JADI TENTARA!!!!” Ia tersadar dari lamunannya mendengar teriakan si ucil dalam pelukannya. Ia berpikir apakah bisa mewujudkan cita-cita ucil sedangkan ia baru saja di PHK dari pekerjaanya dan hanya menjadi seorang tukang becak, untuk kehidupan sehari hari saja mereka susah.
Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Beberapa tahun kemudian, ucil tumbuh menjadi seorang anak yang kuat dan tangguh, ia juga pintar. Sayangnya, ia harus putus sekolah saat SMA karena ayahnya sudah tidak mampu membiayai sekolah yang semakin lama semakin membutuhkan banyak uang. Ucil memilih bekerja membantu ayahnya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia bekerja sebagai tukang kebun disalah satu kebun milik orangtua teman-nya.
Di siang yang terik, pak eko mendapat penumpang anak SMA yang kemudian ia teringat semua hal tentang anaknya. Sambil mengayuh becak, pak eko berfikir “andai saja ucil melanjutkan sekolah SMA, pasti masa depannya sedikit demi sedikit sudah tertata”. Di perjalanan, ia mengobrol dengan penumpangnya yang akhirnya menyeletuk kalimat “iya dek, anak bapak yang seumuran kalian harusnya sekolah tetapi bapak tidak mampu membiayainya”. Sehingga penumpangnya menawari pekerjaan yang dimiliki oleh pamannya “bapak, kebetulan di perusahaan paman saya membutuhkan karyawan yang gaji-nya lumayan besar. Agar anak bapak bisa sekolah lagi”. Pak eko terkejut, “boleh dek, tetapi… bapak hanya lulusan SD”. “tidak masalah pak nanti saya bantu tawarkan ke paman saya”, ujarnya.
Keesokan harinya pak eko bertemu lagi dengan anak itu “ Pak, besok bapak sudah bisa bekerja disini” ucapnya sambil memberikan sebuah kertas bertuliskan alamat. “ Ya allah terimakasih ya dek”. Akhirnya sejak saat itu pak eko mulai bekerja di perusahaan yang di disarankan anak SMA tersebut. Pak eko bekerja keras banting tulang agar anaknya bisa sekolah dan mewujudkan cita-cita anaknya. Ia tidak pernah mengeluh atas pekerjaannya dan selalu semangat bekerja untuk ucil.
Waktu demi waktu uang ayahnya pun terkumpul untuk menyekolahkan ucil. Betapa bahagianya ucil karena bisa sekolah lagi. Ia sekolah di SMA Negeri di tempatnya, dan sering berkompetisi untuk mengikuti lomba lomba olimpiade akademik maupun non akademik. Tetapi disisi lain ia di bully oleh teman temannya karena termasuk anak yang telat sekolah atau bisa dikatakan tidak naik kelas. Tetapi celotehan celotehan itu tidak didengarkan oleh ucil, ia hanya fokus dengan masa depan dan cita-cita nya.
Hari hari dilalui oleh ucil, tiba lah pengumuman kelulusan dimana semua teman ucil melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak ada harapan untuk ucil melanjutkan ke perguruan tinggi tersebut. Karena, ia merasa bahwa sudah sampai tamat SMA saja rasanya tidak mudah. Ucil berkata “siapa yang tidak ingin kuliah? Bahkan zaman sekarang saja orang yang sudah sarjana masih sulit mencari pekerjaan, apalagi tamatan SMA seperti saya”. “lebih baik kamu mencari informasi beasiswa, karna kamu tergolong anak yang ambisius, cil”, saran temannya.

Komentar
Posting Komentar