MISI RAHASIA DIDI DAN TEMPE GORENG - M SYAHRUL RAHMATULLAH
Misi Rahasia Didi dan Tempe Goreng
oleh: M Syahrul Rahmatullah
Di SMA harapan jaya, Didi seorang anggota PN yang terkenalceroboh namun penuh ide gila, mendapat tugas penting: menyiapkan konsumsi untuk acara seminar motivasi. Tugasnya sederhana—atau setidaknya begitulah yang iapikirkan.
Hari itu, Didi melangkah percaya diri ke ruang PN. "Tenang, semuanya sudah diatur. Seminar besok bakal sukses!" serunya. Teman-temannya, Siti dan Bimo, hanya salingpandang, sudah hafal bahwa setiap ide Didi biasanya berujungpada kekacauan.
"Jadi, konsumsi buat seminar besok sudah aman?" tanya Siti, yang memegang jabatan sekretaris.
Didi tersenyum lebar. "Sudah dong! Gue pesan nasi kotak di Bu Murni—warung paling legendaris di dekat sekolah."
Bimo, si bendahara, mengernyit. "Tapi gue liat anggarankonsumsi lo kecil banget. Bu Murni pasti nggak mau untungrugi."
"Makanya, gue nego!" balas Didi santai.
Esoknya, seminar berlangsung dengan lancar. Hingga tibawaktu istirahat dan kotak konsumsi mulai dibagikan. Aroma tempe goreng khas Bu Murni menyebar, membuat semuapeserta lapar. Namun, begitu membuka kotak, ekspresimereka berubah drastis.
"Bukannya ini... tempe gorengnya cuma setengah?" salah satupeserta berteriak, sambil memegang sepotong tempe yang dipotong sangat tipis.
Siti yang berada di sudut ruangan langsung menatap Didi dengan pandangan tajam. "Didi, lo apain tempe Bu Murni?"
Didi cengengesan. "Gini, gue bilang ke Bu Murni biartempenya dipotong dua biar cukup buat semua peserta. Kan hemat!"
Bimo menepuk dahinya. "Lo sadar nggak kalau ini malahbikin orang marah? Ini seminar motivasi, bukan seminar diet!"
Kekacauan pun terjadi. Peserta mulai mengunggah foto tempesetengah itu ke media sosial dengan caption, "Motivasi makanhemat dari SMA harapan jaya." Dalam waktu singkat, postingan tersebut viral.
Di tengah kekacauan itu, kepala sekolah, Pak Herman, masukdengan raut wajah serius. "Siapa yang bertanggung jawab ataskonsumsi ini?"
Semua mata tertuju pada Didi, yang sudah bersiap-siapmencari alasan. Namun, sebelum ia sempat bicara, Pak Herman mengambil sepotong tempe, mengamatinya dengansaksama, lalu berkata, "Inovatif juga. Bisa jadi ide bisnismakanan hemat. Didi, kamu dapat nilai plus kreativitas!"
Didi ternganga, begitu juga teman-temannya. Di luar dugaan, seminar itu malah mendapat perhatian karena konsep "hemat" konsumsi. Bahkan, peserta memuji seminar tersebut sebagaipengalaman unik.
Didi keluar dari ruangan dengan ekspresi puas. "Gue bilangapa, kan? Gue jenius!"
Siti dan Bimo hanya menggeleng sambil menahan tawa. Mereka tahu, di balik segala kekacauan, Didi memang selalupunya cara membuat hidup di SMA jadi lebih seru.
Unsur Intrinsik:
Unsur Ekstrinsik:

Komentar
Posting Komentar