SAKIT HATI DIBALAS MAAF ITU TIDAK ADIL - NURIL AULIA

Sakit Hati Dibalas Maaf Itu Tidak Adil

by: Nuril Aulia


Sudah hampir empat tahun. Empat tahun yang penuh tawa, tangis, dan semua cerita yang pernah kita tulis bersama. Aku tak pernah berpikir hubungan kita akan berakhir seperti ini. Setiap hari, aku merasa kita seperti dua jiwa yang tak terpisahkan, dua orang yang saling memahami tanpa perlu banyak bicara. Tapi, kenapa sekarang semuanya terasa berbeda?


Dulu, aku ingat betul bagaimana kita memulai segalanya. Kita berjanji untuk saling menjaga, berjanji untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Bahkan saat masalah datang, kita selalu bisa menyelesaikannya bersama. Tapi, kenapa sekarang kamu malah memilih pergi begitu saja? Tanpa memberi penjelasan yang jelas, tanpa alasan yang bisa aku terima dengan kepala dingin.


Aku masih ingat saat itu, kamu memandangku dengan tatapan yang begitu kosong. Seolah-olah ada yang hilang dari dirimu, atau mungkin dari kita. Dan kamu bilang, "Aku minta maaf, aku nggak bisa lanjut hubungan ini." 


Maaf? Itu yang kamu katakan setelah hampir empat tahun kita bersama? Maaf? Aku hampir tidak percaya dengan kata-kata itu. Bagaimana bisa, setelah semua yang kita lewati, setelah semua kenangan yang kita buat bersama, kamu hanya bisa memberi aku kata maaf? Seharusnya ada lebih banyak penjelasan, lebih banyak alasan. Aku berhak tahu kenapa, aku berhak mendengar lebih dari sekadar kata maaf yang seolah-olah bisa menghapus semua yang sudah terjadi.


"Apa kamu pikir maaf itu cukup?" tanyaku, dengan suara yang mulai bergetar. "Apa kamu pikir, dengan kata itu, semua bisa selesai begitu saja? Semua yang kita lalui, semua yang kita bangun, bisa hilang hanya karena kamu bilang 'maaf'?"


Kamu terdiam. Tatapanmu kosong, seolah kata-kata itu tidak lagi berarti apa-apa. Aku tahu kamu merasa bersalah. Aku bisa melihatnya di matamu. Tapi, apa itu cukup? Apa kata maafmu bisa menyembuhkan semua luka yang kamu buat? Tidak. Itu tidak adil. Aku merasa seperti kamu hanya ingin menenangkan dirimu sendiri dengan kata-kata yang tidak mampu menutup luka yang kamu buat.


Sakit hati yang aku rasakan bukan hanya karena kamu pergi. Sakit hati ini datang dari kenyataan bahwa kamu tidak pernah benar-benar menjelaskan kenapa. Kenapa kamu bisa berubah, kenapa kamu bisa memilih untuk mundur begitu saja, setelah hampir empat tahun kita berjuang bersama. Kata maaf yang kamu beri terasa begitu murah. Itu seperti pelepasan yang hanya membuatmu merasa lebih baik, sementara aku harus menanggung semuanya sendiri.


Aku coba mengerti, aku coba berpikir kalau kamu punya alasan yang kuat. Tapi semakin aku mencari-cari alasan itu, semakin aku sadar bahwa maafmu hanyalah kata-kata kosong yang tak memberi penjelasan apapun. Kamu pergi tanpa bertanya bagaimana perasaanku, tanpa peduli bagaimana rasanya ditinggalkan setelah semua yang telah kita jalani bersama. Dan kamu pikir, dengan kata maaf, semua itu bisa selesai?


Tidak. Maafmu itu tidak adil.


Bukan hanya soal pergi, bukan hanya soal kata-kata itu, tapi soal bagaimana kamu meninggalkanku tanpa memberi kesempatan untuk kita membicarakan ini dengan baik. Aku bahkan merasa, setelah empat tahun ini, aku hanya diberikan secuil rasa kecewa dan penyesalan yang terlambat.


Kini, aku hanya bisa menatapmu dengan perasaan campur aduk yang tak bisa aku jelaskan. Maaf itu memang penting, tapi kadang, kata maaf itu justru memperburuk keadaan. Kata maafmu datang terlambat. Aku sudah mencoba melupakan, mencoba untuk menerima kenyataan. Tapi dengan kata maafmu itu, kamu hanya membuka luka yang sudah hampir sembuh.


Setelah kamu pergi, aku belajar satu hal. Maaf itu tidak selalu cukup. Maafmu mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik, tapi itu tidak mengubah kenyataan. Aku yang ditinggalkan, aku yang merasa hancur, sementara kamu hanya merasa lega. Itu yang aku rasakan, dan itu tidak adil.


Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Empat tahun adalah waktu yang aku anggap cukup untuk membangun segala sesuatunya denganmu. Tapi kalau akhirnya hanya berujung pada kata maaf, aku rasa, kita tidak pernah benar-benar saling mengerti.


Maaf itu memang penting, tapi tidak adil rasanya bila semuanya hanya selesai dengan sebuah kata maaf yang datang terlambat.

Komentar

Postingan Populer