SANG PAHLAWAN TAK TERDUGA - AHMAD DZIMAR
Sang Pahlawan Tak Terduga
oleh: Ahmad Dzimar
Matahari mulai terbenam, sinarnya yang keemasan menyinarilapangan sekolah SMA Harapan Jaya. dzimar, seorang siswakelas 11 yang pendiam dan sering dianggap biasa saja oleh teman-temannya, duduk di pojokan sambil membaca novel detektif kesukaannya.
Hari itu, suasana sekolah terasa lebih sepi dari biasanya. Sebagian besar siswa sudah pulang, kecuali beberapa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. dzimar tidak menyangkabahwa sore itu akan menjadi hari yang mengubah hidupnya.
Saat hendak pulang, dzimar mendengar suara gaduh darigudang sekolah. Ia mendekat dengan hati-hati dan melihat dua pria tak dikenal sedang mengangkut barang-barang berhargadari gudang itu. Mereka memakai masker dan membawasenjata tajam. dzimar langsung bersembunyi di baliktumpukan kardus sambil menahan napas.
“Ayo cepat! Sebelum ada yang melihat!” desis salah satu pria.
dzimar tahu, ia tidak bisa hanya diam. Jantungnya berdegupkencang, tetapi pikirannya tetap fokus. Ia mengingat pelajaranfisika saat kelas 10 tentang bagaimana memanfaatkanmomentum dan kekuatan torsi. Ia mengambil sebatang kayuyang ada di dekatnya, lalu menyusun rencana.
Dengan keberanian yang tak pernah ia duga ada dalamdirinya, dzimar melempar sebuah kaleng ke arah lain untukmengalihkan perhatian pencuri. Ketika salah satu dari merekamendekat untuk memeriksa, dzimar melancarkan aksinya. Dengan kayu di tangannya, ia memukul kaki pria itu hinggaterjatuh. Pria yang lain berbalik, tetapi dzimar sudah bersiap. Ia melemparkan pasir yang ada di lantai ke mata pria itu, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Keributan itu menarik perhatian satpam sekolah, yang segeradatang dan menangkap kedua pria tersebut. Polisi dipanggil, dan kedua pencuri itu akhirnya ditahan.
Keesokan harinya, berita tentang keberanian dzimar menyebarke seluruh sekolah. Teman-temannya, yang biasanyameremehkannya, kini memandangnya dengan penuh kagum. Guru-guru memberikan penghargaan, dan bahkan kepalasekolah memuji kecerdikan dzimar dalam menghadapi situasiberbahaya.
Namun, dzimar hanya tersenyum. “Saya hanya melakukanapa yang harus dilakukan,” ujarnya singkat. Meski tetaprendah hati, ia menyadari bahwa hari itu ia menemukankeberanian dalam dirinya yang selama ini tersembunyi.
Unsur Intrinsik :
Unsur Ekstrinsik :

Komentar
Posting Komentar