SETELAH HUJAN - MOCH MAHFUD
Setelah Hujan
by: Moch. Mahfud
Langit sore itu mendung, seolah tahu perasaan Maya yang sedang terperangkap dalam kesedihan. Dedaunan yang berguguran di jalan setapak menambah kesunyian yang menyelimuti kota. Hujan baru saja reda, meninggalkangenangan air yang memantulkan bayangan langit kelabu. Maya berjalan dengan langkah lambat, menghindari genanganair di trotoar, tetapi hatinya terasa lebih berat daripada bebanyang ada di tubuhnya.
Sudah seminggu sejak Farel, kekasihnya, pergi. Tidak adakata perpisahan yang jelas, hanya sebuah pesan singkat yang mengatakan, "Aku butuh waktu sendiri, Maya." Pesan yang begitu singkat, tapi seperti sabetan pisau yang memotonghatinya. Mereka sudah bersama selama dua tahun, melaluisuka dan duka, namun rasanya seperti semuanya hancurdalam semalam.
Maya melangkah menuju taman kecil di dekat rumahnya, tempat yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Taman ituselalu menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka. Di kursiyang selalu mereka duduki, Farel pernah berjanji akan selaluada untuknya. Tapi janji itu sekarang terasa seperti angin yang menghilang begitu saja.
Setibanya di taman, Maya duduk di kursi yang masih terasadingin dari hujan tadi. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun, bayangan Farel datangmenghampiri pikirannya. Wajahnya yang tersenyum, tawa mereka yang penuh kebahagiaan, dan percakapan ringan yang selalu mengisi hari-hari mereka. Semua itu kini hanya tinggalkenangan yang tak bisa diulang.
"Kenapa dia pergi?"Maya bergumam pada dirinya sendiri. "Apa yang salah dengan aku?"
Pertanyaan itu selalu mengganggunya, meski dia sudahberusaha mencari jawabannya. Mungkin Farel tidak lagimerasa bahagia bersamanya. Mungkin ada sesuatu yang hilang antara mereka. Namun, dia tidak pernah bisamenemukan jawaban yang memuaskan.
Maya meremas tangan, mencoba menahan air mata yang mulai mengalir. Hujan mulai turun lagi, kali ini dengan deras. Tidak peduli, Maya tetap duduk di sana, membiarkan air matadan hujan mencampur. Terkadang, dia merasa lebih baikmenangis di bawah hujan, seolah hujan itu mengertikesedihannya dan menanggungnya bersama.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Maya menoleh, dan matanya bertemu dengan mata seorang pria yang baru sajalewat. Wajah pria itu tampak khawatir, lalu dia berhenti dan menatap Maya dengan perhatian.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu pelan.
Maya tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa, tatapan pria itumembuatnya merasa sedikit lebih tenang. Dia mengangguk, mencoba tersenyum meskipun terasa begitu sulit.
"Saya cuma… merasa sedikit kehilangan," jawab Maya pelan.
Pria itu duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa. Hanya duduk bersama Maya dalam keheningan, mendengarkan suarahujan yang semakin deras. Maya merasa aneh, tidak tahumengapa dia merasa sedikit nyaman dengan kehadiran priaasing itu. Mungkin, hanya kebetulan saja dia ada di sini, pada saat yang tepat, di waktu yang tepat.
"Kadang, kita harus melepaskan sesuatu yang kita cintai, meskipun itu terasa sangat sakit," kata pria itu, dengan suaralembut.
Maya menoleh ke pria itu, matanya sedikit terbuka. "Kamu… pernah merasakannya?"
Pria itu tersenyum tipis, kemudian mengangguk. "Ya. Tidak ada yang lebih sulit dari melepaskan sesuatu yang kita anggapakan selalu ada. Tapi waktu akan membantu. Setiap air matayang jatuh, setiap rasa sakit, itu semua akan menjadikenangan yang, pada akhirnya, bisa kita terima."
Maya terdiam, mencoba mencerna kata-kata pria itu. Mungkinmemang benar. Waktu, meskipun terasa lambat, akanmemberikan penyembuhan. Namun, rasa sakit yang ditinggalkan oleh seseorang yang pernah kita cintai tidak akanhilang begitu saja. Ia akan mengendap dalam hati, menjadibagian dari kita yang tak terpisahkan.
"Terima kasih," Maya berbisik pelan. "Mungkin kamu benar. Mungkin aku hanya perlu waktu."
Pria itu tersenyum dengan lembut, kemudian berdiri. "Tapi ingat, meskipun hujan datang dan pergi, selalu ada pelangisetelahnya. Kamu tidak sendirian."
Maya menatap pria itu yang mulai berjalan menjauh, meninggalkan jejak langkah di tanah yang masih basah. Terkadang, kata-kata seseorang yang tak dikenal bisamemberikan kedamaian lebih dari yang kita harapkan. Mayaduduk lebih lama di bangku itu, merenungkan kalimat pria itu.
Malam mulai turun, dan hujan pun berhenti. Langit yang tadinya kelabu kini mulai menghilang, memberikan ruanguntuk bintang-bintang yang perlahan muncul. Mayamengangkat wajahnya, memandangi langit malam yang tenang. Mungkin, seperti langit yang cerah setelah hujan, diapun bisa menemukan ketenangan dalam hatinya suatu harinanti.
Tapi untuk saat ini, dia hanya ingin merasakan kesedihannya, membiarkan diri merasakan kehilangan yang begitu dalam. Karena di balik setiap kehilangan, ada pelajaran dan kekuatanyang akan membuatnya lebih bijaksana.
Dan mungkin, suatu hari nanti, dia akan siap untuk mencintailagi—tanpa rasa takut, tanpa rasa sakit yang mengikat.
Unsur intrinsik :
Tema : Sedih
Tokoh : Maya, Farel, seorang pria
Penokohan : Maya : Tritagonis
Farel : Antagonis
Seorang pria : Protagonis
Alur : Campuran
Latar tempat : Taman
Latar waktu : sore
Latar suasana : sedih
Sudut pandang : Ke Tiga
Amanat : Jangan Lelah untuk terus berbuat baik, berperasangka baik, memberikan yang terbaik
Kepada siapa pun, terutama, pada dirimu sendiri, karana kamu pantas Bahagia.
Komentar
Posting Komentar