DI BAWAH LANGIT BANDUNG YANG SAMA - NOVILIA ANJALIYAH
Di Bawah Langit Bandung yang Sama
Langit senja berpendar emas,
menyusup di celah pepohonan luas
Di sudut gang yang sunyi dan tua,
kenangan berbisik, merajut suara.
Di sana dulu langkah berlari,
di bawah pohon, tawa berdenting riuh.
Janji terucap tanpa ragu,
tentang mimpi yang tak boleh luruh.
Waktu berlalu, jarak terbentang,
dua hati terpisah arus zaman.
Surat berhenti, suara menghilang,
hanya ingatan yang tetap bertahan.
Namun, takdir menuntun kembali,
di bawah langit yang tetap berseri.
Dua jiwa yang sempat terpisah,
kini bertemu, menenun kisah.
Tak ada kata yang terlalu terlambat,
tak ada mimpi yang hilang sekarat.
Bandung masih berdiri tenang,
menyambut mereka dalam pelukan senjang.
•JENIS PUISI : Puisi Liris
•STRUKTUR PUISI
1. Diksi :Berpendar Emas ,Tawa berdenting emas, tawa berdenting riuh
2. Kata Konkret :gang yang sunyi dan tua, surat berhenti, suara menghilang
3. Imaji :Langit senja berpendar emas , Bandung masih berdiri tenang
4. Personifikasi : kenangan berbisik merajut suara ,takdir menuntun kembali
5. Gaya Bahasa :
Metafora; dua hati terpisah arus zaman
Repetisi; di bawah langit yang tetap berseri
6. Tipografi :
1. Tipografi dalam puisi ini mengikuti bentuk larik pendek dan berima bebas, memberikan kesan ringan dan mudah dibaca. Setiap bait terdiri dari 2-4 larik yang membentuk kesatuan makna yang kuat.
2. Secara keseluruhan, puisi ini berhasil membangun suasana nostalgia dengan diksi yang puitis, imaji yang kuat, serta penggunaan personifikasi yang memperindah makna.
Komentar
Posting Komentar