SAPAAN ARGA - RAHMATIKA MUTIA
Sapaan Arga
oleh: Rahmatika Mutia / XI.6
Pagi cerah, langkahku ringan,
disapa nama yang tak kuharapkan.
“Mutia!” terdengar lantang,
hatiku terdiam, pikirku melayang.
Dulu benci, kini ragu,
mengapa bergetar saat bertemu?
Hanya waktu yang akan menjawab,
apakah ini cinta, atau sekadar angin lewat?
Berikut adalah unsur intrinsik dari puisi "Sapaan Arga":
1. Tema: Perubahan perasaan dari kebencian menjadi kebingungan, mungkin cinta.
2. Diksi: Pemilihan kata sederhana namun bermakna, seperti "bergetar," "ragu," dan "angin lewat," yang menciptakan nuansa emosional yang kuat.
3. Rima: Puisi ini tidak memiliki pola rima yang kaku, tetapi tetap mengalir dengan indah.
4. Gaya Bahasa:
Personifikasi: “hatiku terdiam, pikirku melayang” memberikan kesan emosi yang dalam.
Kontras: Dari "dulu benci, kini ragu," menunjukkan perubahan perasaan Aliandra.
5. Amanat: Perasaan seseorang bisa berubah seiring waktu. Kadang, kita tidak menyadari apa yang sebenarnya kita rasakan sampai waktu yang menjawabnya.
6. Suasana:
Awalnya terkejut dan bingung saat Arga menyapa.
Diakhiri dengan nuansa penuh tanya dan harapan.
7. Latar:
Latar waktu: Pagi saat berangkat sekolah, siang saat pulang.
Latar tempat: Jalan menuju sekolah dan perempatan tempat Arga nongkrong.
8. Tokoh dan Perwatakan:
Aliandra: Awalnya membenci Arga, tetapi mulai merasakan kebingungan terhadap perasaannya.
Arga: Sosok yang suka menyapa Aliandra, mungkin memiliki maksud tertentu.
Dengan unsur-unsur ini, puisi “Sapaan Arga” berhasil menyampaikan cerita dan perasaan dalam bentuk yang singkat namun bermakna.
Komentar
Posting Komentar